“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Rabu, 03 Januari 2024

Sabar Dengan Ketetapan Allah



Rintik hujan menyapa lembut
heningnya malam bagi penduduk kota ST. Petersburg, Rusia. Keheningan dan kenyaman menyelimuti sean-tero kota. Namun tak seluruhnya seperti itu. Di sana tampaknya, ada salah satu dari hamba Allah ini merasakan kepedihan dan kesedihan. Sebut saja Leonov, (bukan nama aslinya) Tengah merenungi apa yang telah terjadi atas dirinya. Ia merasa bahwa Allah melupakannya, padahal selama ini dia adalah seorang hamba Allah yang taat. Wanita yang akan menjadi istrinya, sebut saja Sedie, (nama samaran). Harus meninggalkan dunia ini terlebih dahulu ketimbang Leonov sendiri. Bayang-bayang tragedi kecelakaan yang dialami Sedie sebelum kematiannya selalu terngiang di pikiran Leonov. Sesekali ia menjerit sedih saat wajah cantik Sedie terfikir di benaknya. Ia merenung atas musibah bertubi-tubi yang terus menimpa dirinya. Tahun lalu, ia harus merayakan lebaran tanpa kehadiran ibunda tercinta. Dua bulan sebelum Sedie pergi, sang ayah Leonov juga harus menghadap kepada Allah yang Mahakuasa. Kesedihan besar yang tak mampu untuk ia rasakan seorang diri. Airmata menetes deras mengungkapkan seluruh kesedihan yang ia rasakan. Ia berteriak “Tuhan tak adil denganku!….Tuhan telah melupakanku!!” namun, tak ada yang menghiraukannya. Karena sekarang, sejatinya ia tengah sendiri.

Di waktu yang sama, tepatnya di kota Moskow. Seorang penjahat tengah berfoya-foya dengan uang kejahatannya bersama istri dan anak-anaknya. Sebut saja Roy, seorang pebisnis gelap, pengedar narkoba, hobi mabuk-mabukan. Namun kebahagiaan selalu meliputi dirinya seperti derasnya rintik hujan. Berturut-turut tapi pasti.

Pernahkah kamu melihat kejadian seperti di atas?

Pernahkah kamu melihat orang yang sering bermaksiat, pendosa dan paling durhaka tapi hidupnya paling berbahagia di dunia ini?

Apa yang seandainya akan kamu lakukan saat kamu adalah seorang yang ikhlas dalam beribadah, tetapi ujian datang silih berganti seperti yang dialami Leonov,?

Apakah kamu akan mengannggap bahwa Allah telah melupakanmu?

Atau dengan segera, kamu akan mengakhiri hidupmu di dunia ini secepatnya?

Pernahkah kamu bertanya apa solusi dari semua ini? Sekarang,

izinkan aku untuk menjelaskan semuanya. Apa yang terjadi dalam peristiwa di atas, kamu mungkin pernah mendapatinya di lingkunganmu. Dengan terheran-heran, pasti akan ada sebuah pertanyaan yang muncul dari benakmu.

Bagaimana bisa? Para pendosa lebih bahagia hidupnya ketimbang mereka yang taat dengan Allah?

Apakah Allah sengaja menelantarkan mereka yang taat dan memanjakan mereka yang pendosa?

Jawabannya tidaklah seperti demikian. Allah tak akan pernah menelantarkan hambanya yang taat dan beriman kepadanya sesekali pun. Namun, Allah hanya menguji mereka untuk mengetahui sebesar apakah keimanan para hamba-hambanya terhadap diri-Nya. Itulah yang di namakan sebagai ujian Allah untuk hamba-Nya. Ketika Allah menyayangi, mengasihi, dan mencintai hambanya, maka Allah akan menjadikan bagi hamba itu sebuah musibah dan ujian. Yang demikian itu supaya dosa mereka berguguran sehingga mereka menghadap Allah tanpa membawa dosa sedikitpun, jika seandainya hamba itu menghadapi ujian yang di berikan Allah dengan sabar dan penuh keridhaan. Nabi Shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda yang artinya.

sesungguhnya besarnya balasan (pahala) tergantung dengan besarnya musibah. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Allah pasti akan menguji mereka. Maka barangsiapa yang Ridha (dengan ujian itu) maka baginya ridha (Allah) dan barangsiapa mencela (ujian) maka baginya celaan (dariAllah)”(HR. Tirmidzi)

Musibah dan cobaan yang mungkin kita alami adalah bentuk rasa cinta Allah terhadap hamba-hambanya. Maka selayaknya, kau bersabar dan berbahagialah, musibah yang mungkin kamu terima adalah bukti cinta Allah padamu. Karena manusia terbagi menjadi empat saat menghadapi ketetapan Allah yang tak sesuai dengan keinginan mereka.

Pertama: mencela, marah dan tidak terima dengan musibah itu. Terkadang mereka akan meratap, memukul pipi dan sebagainya dari bentuk ratapan. Dan ini adalah sesuatu yang di haramkan dalam syariat islam. Lantas apakah tidak boleh menangis saat kepergian orang yang mungkin sangat kita cintai?. Jawabannya adalah boleh, selama tidak berlebih-lebihan yang akan mengesankan bahwa kamu tak terima dengan ketetapan yang Allah tetapkan atasmu.

Kedua: sabar, dan ini adalah sesuatu yang wajib bagi setiap orang yang beriman.

Ketiga: ridha dengan seluruh ketetapan Allah atasmu. Dan sepertinya itu adalah martabat yang cukup sulit. Sehingga hukumnya pun di sunnahkan.

Keempat: bersyukur dan memuji Allah, ini adalah martabat tersulit dan paling utama bagimu jika kamu melakukannya. Sehingga, bagian ini adalah yang paling utama di sisi Allah. Hukumnya adalah sunnah.

Lantas dengan apa seorang di anggap bersabar? Jawabnya adalah saat kamu mampu bersabar dengan musibah itu melalui hati, lisan, dan tubuhmu. Bagaimana kita bisa di anggap bersabar dengan ketiga hal itu? Sabar dari hati adalah dengan meninggalkan seluruh ketidak sukaan dalam hatimu atas musibah yang menimpamu. sabar dengan lisan adalah dengan meninggalkan seluruh celaan yang keluar dari mulutmu saat ujian yang kamu hadapi tak selaras dengan apa yang ada di benakmu. Sabar dengan tubuh atau anggota badan adalah dengan kamu menahan diri dari menampar pipi, merobek baju dan memukul sesuatu saat terjadinya musibah.

Lantas hal-hal apa saja yang akan membawamu kepada sabar? Jawabannya adalah.

Pertama: yakinlah bahwa musibah adalah bentuk cinta Allah dan tanda bahwa Allah menginginkan kebaikan kepadamu. Seperti hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah

bahwa nabi pernah bersabda “ siapa yang Allah hendaki kebaikan untuknya, Allah akan mengujinya dengan musibah” (HR.Bukhari)

kedua: yakinlah bahwa musibah yang kamu terima akan menggugurkan seluruh dosamu yang telah lampau. Bahwa siapa yang ujiannya besar maka pahala yang disediakan untuknya juga besar.

Contoh saja saat kamu berubah agama menjadi muslim yang kamu awalnya Non-Muslim. Kamu pasti akan ditimpa musibah dengan bencinya seluruh keluargamu padamu. Jika kamu bersabar, kamu akan mendapat pahala yang begitu besar sehingga mampu menaikkan derajatmu di sisi Allah. Tapi jika kamu tidak mampu bersabar, maka celaan Allah untukmu. Allah menjelaskan keutamaan mereka yang bersabar di ayat-Nya, yang artinya :

maka bersabarlah kalian!,sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”(Al-Anfal: 42)

ketiga: anggaplah kecil musibah yang kamu terima, semisal, jika kamu merasa dengan hijrahmu menuju islam atau kebenaran adalah sesuatu yang terberat bagimu.

Maka lihatlah penderitaan saudara seagamamu yang ada di palestina. Tidakkah kamu berfikir betapa prihatinnya kondisi mereka. Mungkin kamu hari ini mampu tidur dengan nyaman, namun apakah seperti itu juga berlaku atas mereka? Sama sekali tidak. Mungkin dentuman bom yang membangunkan mereka dari mimpi indah. Mereka mungkin akan sangat berbahagia jika kamu memberi seteguk air kepada mereka atau secuil roti, merka pasti akan tertawa senang lantas mengerumunimu dengan harapan engkau membagi-bagikan secuil roti itu kepada mereka. Mereka pasti akan sangat berterima kasih padamu, atau jika perlu mendoakanmu kebaikan. Secuil roti di sisimereka ibarat sebongkah emas di sisimu. Semuanya karena kelaparan berkepanjangan yang mereka terima. Itu adalah kenyataan, namun banyak orang yang tak menyadarinya. Sementara kamu, kamu mungkin hari ini masih dengan mudahnya menikmati makanan mahal seperti MCDonald dan sejenisnya.

Bayangkan, mungkin hari ini mereka masih bersama keluarga mereka. Namun siapa kira jika di sore hari nanti, mereka akan mendapati keluarga mereka telah menjadi seonggok mayat tak bernyawa.mereka ingin menangis, tapi menangis sekali pun tak mampu untuk membangkitkan mereka dari kematian. Hanya kesedihan dan linangan air mata yang tak mampu di bendung oleh sesiapaun kecuali kabar gembira dari Allah berupa surga-Nya. Mungkin juga, hari ini kamu masih bisa duduk ataupun tidur di bantal yang empuk. Adapun mereka, maka batulah yang menjadi bantal mereka.namun apa yang membedakanmu dengan mereka? Walaupun bantal mereka adalah batu, namun hati mereka selembut bantalmu bahkan lebih. Sedangkan kamu, bantalmu saja yang lembut, tapi hatimu lebih keras dan kasar daripada batu. Itulah jawabannya. Kamu tak pernah merasakan kepedihan seperti mereka dalam beragama. Kamu hanya bisa menggerutu dan mengucapkan “..Allah telah sengaja melupakanku saat aku kembali ke jalan-Nya..” semoga Allah memberimu hidayah yang berlipat jika kamu memang mengucapkan seperti itu. Allah telah menggambarkan derita warga muslim palestina sedemikian rupa dalam ayat-Nya, yang artinya:

Dan sungguh kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira pada orang-orang yang sabar”( Al-Baqoroh: 155)

yaitu orang-orang yang ketika mendapat musibah mereka berkata “ sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali”( Al-Baqoroh: 156 )

apakah kamu masih akan menganggap ujian yang menimpamu itu lebih besar dari apa yang mereka alami?

Keempat: lihatlah apa yang tersisa dari kenikmatan dunia untukmu. Lihatlah kepada yang ada di bawahmu jika masalah dunia. Masih ada yang ujiannya lebih berat drimu di luar sana. Yakinlah Allah tak akan menelantarkanmu.

Kelima: bersyukurlah jika musibah yang menimpamu hanyalah dari luar, bukan dari dalam hatimu. Karena musibah di dalam hati, yaitu musibah keyakinan lebih besar bahayanya jika ditimbang dari musibah yang terjadi pada materi dan anggota tubuhmu. Musibah hati mampu membuatmu murtad atau merubah keyakinanmu dalam beragama Islam.

Keenam: yakinlah! Bahwa semua musibah datang seketika dan hilang seketika. Maka kesabaran yang ringan itu berat bagimu. Yakinilah Allah akan memberikan ganti untukmu yang lebih baik dari apa yang hilang darimu sebelumnya.

Ketujuh: bacalah kisah-kisah Nabi-nabi terdahulu dalam menyikapi musibah, atau kau bisa mengunjungi saudara-saudaramu seiman yang hidup di Rohingnya, dan Palestina agar kamu mampu belajar dari kesabaran mereka dalam menghadapi ujian dan musibah.

Setelah kamu mengetahui betapa pentingnya kesabaran dalam islam, selayaknya bagimu untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-harimu. Semoga bermanfaat dan menjadi motivasi bagimu yang mungkin menjadi seorang muslim di kota ataupun negara yang mayoritas disana adalah Non-Muslim. Tetap yakinlah Allah akan selalu menyertaimu selama kamu selalu berada dalam ketaatan kepada-Nya. Sekian, terimakasih dan mohon maaf atas kekurangannya. Semoga Allah selalu membimbingmu dalam kebenaran.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)