“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Kamis, 18 Januari 2024

Islam yang sebenarnya

 

Malam menyingsing menutup indahnya kota. Sebuah pemberontakan besar-besaran tengah terjadi. Ribuan pria bersenjata mengepung istana raja. Mereka telah dicuci otak oleh seorang yang mengaku mengamalkan sunnah untuk melakukan kudeta terhadap pemerintah.

TRAT!TAT!TAT!TAT!..DOR!DOR!DOR!

Baku tembak akhirnya tak terlewatkan. Ratusan tentara keamanan berhasil dibantai habis tanpa sisa. Mereka mengibarkan bendera jihad dengan penuh bahagia sembari membabi buta keluaraga sang Presiden. Presiden kala itu telah berhasil dilindungi oleh segenap tentara keamanan kerajaan. Sekarang, adalah tugas bagi agen negara itu untuk menyiasat siapakah sebenarnya otak dari pemberontakan ini. Setelah diusut dan pemimpin mereka berhasil diburu, barulah jawaban itu terbuka. Ternyata, apa alasan dia memberontak? Tak lain hanyalah karena kebodohan penguasa dalam mengadili para rakyatnya. Kezaliman penguasa inilah yang akhirnya menyulut emosinya. Sebelum akhirnya, dia menyeru khalayak ramai untuk mendeklarasikan jihad melawan penguasa sendiri. Sebuah fenomena yang selalu ada dalam hidup di negara demokrat. Seperti yang pernah kulihat di Amerika, Suriah dan sejenisnya beberapa tahun silam. Gerakan jihad yang satu ini memiliki dampak buruk bagi agama ini. Karena sejatinya, islam tak pernah mendeklarasikan yang demikian bagi seluruh pemeluknya. Mereka hanyalah tertipu dengan bisikan semu para iblis yang berbaju dan berpenampilan mirip seorang ahli ilmu. Mereka juga diiming-iming dengan janji syurga padahal mereka hanyalah mati konyol.

Allah menulis wajibnya taat kepada penguasa setelah taat terhadap Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman yang artinya:

taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (pemerintah) di antara kamu” (An-Nisaa’ : 59)

Tahukah kamu, apa hikmah disebutkannya taat kepada pemerintah setelah taat kepada Allah dan Rasul-Nya? Jawabannya adalah agar kita hanya mentaati para pemerintah jika mereka melakukan sesuatu yang ma’ruf dan pernah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Islam yang sebenarnya tidaklah mengajarkan untuk demo dan aksi bom bunuh diri sebagai jihad menghadapi penguasa sendiri. Untuk menyikapi keragaman sifat penguasa, islam telah memberikan satu kunci yang harus dimiliki oleh seluruh pemeluknya, terlebih apabila mereka menghadapi penguasa yang berbuat semena-mena. Yaitu adalah kesabaran, mengapa islam mengajarkan demikian?

Karena dengan kesabaran itu akan muncul sebuah kebaikan. Nabi mengajarkan kepada kita yang demikian, maka selayaknya bagi kita untuk mengikuti perintahnya. Karena, jika kita mematuhi dan bersabar atas kesemena-menaan mereka, itu akan membawa kepada kebaikan bahkan hidayah baginya secara tak langsung.

Tapi sebaliknya, jika kita hanya bisa mendemo pemerintah, apa yang akan semakin terfikir di benak pemerintah? Ternyata umat islam begini dan begitu. Yang akhirnya membuat pandangan mereka tentang islam hanyalah mereka yang gemar membuat kericuhan di saat keamanan dan kedamaian. Dan bagimu juga, wahai para pemimpin, bersikaplah adil terhadap rakyatmu! Demo dan kudeta tak akan pernah ada jika kamu dan rakyatmu tidak pernah terjadi gesekan. Kamu hanya berdiam menghadapi mereka yang telah mengkorupsi uang negara sebesar ratusan juta, tapi dengan seorang miskin, yang dia tak memiliki makanan sehingga dengan terpaksa ia mencuri sebiji singkong, lalu engkau menangkapnya dan memberinya sanksi berupa penjara seumur hidup atau denda ratusan milyar.

Apakah layak disebut penguasa, orang yang melindungi sebagian rakyatnya karena uang? Apakah layak disebut penguasa, orang yang memberi keadilan hanya kepada mereka yang mampu menyogok saja? Bukankah penguasa itu adalah mereka yang adil dan menyayangi seluruh rakyatnya tanpa harus membeda-bedakannya satu sama lain.

Ingatlah akhir yang hina bagi mereka yang telah berbuat semena-mena. Allah menjadikan kematian mereka beraneka ragam. Sebut saja Namrud, bagaimana Allah mempermalukannya dengan seekor nyamuk yang mampu merenggut nyawanya. Bagaimana dengan fir’aun yang berakhir tragis dengan tenggelam di laut merah?

Lebih kuat manakah antara kamu dengan mereka berdua, lantas siapakah yang mempermalukan keduanya dengan kebinasaan? Ingatlah, di sana masih ada Raja di atas para Raja, dialah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Kamu bukanlah orang yang layak untuk menerima uang dari rakyatmu untuk dirimu, tapi rakyatmulah yang berhak untuk menerima uang darimu sebagai kebutuhan mereka. Betapa banyak disana, mereka yang kekurangan sandang dan pangan. Maka, jika yang kamu prioritaskan adalah kemewahan untuk bersaing dengan yang lainnya. Ingatlah! Hartamu tak akan kekal menemanimu. Karena sejatinya, kamu sekarang sedang berada di dalam jebakan yang entah akan membawamu ke syurga ataupun ke neraka-Nya. Allah telah memberimu ultimatum wahai pemerintah yang kejam! Allah berfirman yang artinya:

Dan janganlah kamu sesekali mengira wahai Muhammad, bahwa Allah lalai dari apa yang telah diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu, mata mereka terbelak”(Ibrahim: 42)

begitu juga dengan para rakyat. Tak selayaknya bagimu untuk menghina dan merendahkan para penguasa baik melalui ucapan ataupun perbuatan. Karena semuanya itu akan dipertanggung jawabkan oleh dirimu kelak. Nabi pernah memberi kepadamu wasiatnya yang agung. Nabi bersabda yang artinya:

barangsiapa mendapati sesuatu yang tak disukai dari pemerintahnya, hendaklah ia bersabar”(HR. Bukhari)

karena bisa jadi, penguasamu yang mungkin begitu banyak usaha untuk memakmurkan rakyatnya. Tapi lantas mengapa, satu kejelekan pemerintah lebih mudah untuk kamu sebar luaskan daripada kebaikannya. Kamu adalah rakyat, tak sepantasnya kamu menghina sendiri pemerintahmu karena mungkin kesalahan yang pernah dibuatnya. Janganlah menjadi pemberontak negara lantaran karena kesalahan sepele yang dilakukan oleh pemerintahmu secara tak sengaja. Karena memang tabiat manusia, lebih suka mengingat keburukan orang daripada mengingat kebaikannya. Jika kamu ingin menegakkan keadilan terhadap pemerintahmu, maka ajaklah dia untuk berbicara empat mata denganmu. Bukankah kamu bisa memetik pelajaran dari wasiat yang Allah berikan kepada musa dan harun sebelum menghadap ke fir’aun yang kejam. Allah berfirman yang artinya:

pergilah kamu berdua kepada fir’aun, karena sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka katakanlah kepadanya ucapan yang lembut agar dia mengingat ataupun khawatir”(taha: 44 )

Dengan nabi-Nya saja, Allah tak memerintahkan agar langsung mencela fir’aun di hadapanya secara terang-terangan, melainkan memberinya nasehat dengan lembut.

Lantas mengapa kita justru terkadang malah berbuat sebaliknya?

Apakah kita lebih faham tentang sesuatu daripada Allah dan Rasul-Nya sehingga kita berbangga dan seolah lebih faham dan mengetahui segalanya. Jika seandainya penguasa melakukan kesalahan, maka jika kamu tak memiliki kekuatan, maka cukup bagimu untuk mengingkarinya dengan hatimu dan perbuatanmu tanpa harus mengikuti kesalahan yang diperbuatnya. Tapi jika kamu mampu untuk memberinya nasehat secara tatap muka, maka nasehatilah dia dengan baik dan penuh hikmah.

Tidak perlu kamu menyerukan kepada khalayak ramai untuk melakukan demo. Karena sejatinya, para da’i yang menyerukan jihad untuk memberontak kepada pemerintah tak lain hanyalah para da’i abal-abal yang tak memiliki kecerdasan sedikitpun. Maka wasiatku untuk para pemeluk islam di seluruh dunia, bersabarlah dengan penguasamu, dan jauhilah para iblis berkedok ulama yang menyerukan kepada pemberontakan terhadap pemerintah dengan iming-iming syahid.

Karena Rasul pernah bersabda yang artinya:

karena tidak ada seorang pun yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin meski hanya sejengkal, kemudian ia mati,kecuali ia mati dalam keadaan mati jahiliyyah”

begitu juga dengan ucapan Ibnu Taimiyah yang artinya:

Barangkali hampir tidak diketahui, ada sekelompok orang yang melakukan kudeta terhadap pemimpin, melainkan dalam kudeta tersebut terdapat kerusakan yang lebih besar daripada kerusakan yang dihilangkan”

faedah yang dapat kita ambil adalah, bahwa ketaatan terhadap pemerintah muslim meskipun semena-mena adalah prinsip utama yang islam ajarkan.

Meski sayangnya, banyak dari para pemuda yang karena dorongan semangat semata, mereka melakukan pemberontakan dengan dalih jihad ataupun sejenisnya, sehingga negerinya dilanda dengan konflik yang berkepanjangan. Semoga Allah membimbing seluruh umat islam menuju ke jalan yang sebenarnya. Karena islam sejatinya adalah agama yang diturunkan dari sisi Allah untuk Nabi dan Rasul-Nya sebagai petunjuk untuk seluruh umat manusia. Sekian dan terimakasih

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)