Pagi itu, aku dan sebagian temanku akan menyelesaikan ujian terakhir sebelum penutupan, yaitu ujian Matematika. Aku dan temanku yang kebetulan satu ruangan, segera bergegas menuju ke ruang ujian. Waktu kurang sepuluh menit lagi untuk ujian. Aku berniat datang lebih awal supaya waktuku sedikit lebih lama untuk mengerjakan soal. Perasaanku lega saat melihat ruang ujian yang lainnya masih belum tertutup. Saat aku berjalan menuju ke ruang ujianku, perasaanku agak ganjil. Ternyata, ruang ujianku sudah tertutup rapat. Saat kami masuk, ternyata aku mendapati temanku juga sedang berdiri di depan. Tak ada jalan lain, kami juga ikut berdiri di depan. Mataku tersorot ke arah pengawas ruang ujian itu yang sangat sinis. Apa salahku? Aku juga tidak terlambat, bukan? Itulah sebagian pertanyaan dongkol yang keluar dari benakku. Ia hanya membiarkan kami di depan selama kurang lebih lima belas menit. Aku semakin dongkol, berkali-kali aku menghembuskan nafas kesal melihat ulah sok dingin dan sok mengerikan dari penjaga ruangan satu ini.
Namun, emosiku sedikit reda saat melihat sebuah senyuman dari kakak kelasku yang duduk menghadap kearah kami. Ia berbisik pelan ke arah kami “sabar!! memang begitu si pengawas satu ini” aku sedikit merasa reda saat ia tersenyum ke arah kami, dia juga sepertinya merasa dongkol melihat kelakuhan pengawas satu ini. Sampai akhirnya, kami harus berdiri selama lima belas menit full tanpa henti.
Melalui dari kisah di atas. Ada sesuatu yang bisa kita petik. Senyum ramah mampu menarik simpati orang, tapi jika sebaliknya, sifat sinis dan angkuh akan semakin mudah menarik emosi orang yang melihatnya. Karena orang lebih suka dengan orang yang ramah dan mudah senyum, ketimbang orang yang angkuh dan tak pernah senyum. Lalu apa rahasia di balik senyuman ini?
Meski mudah untuk dilakukan, namun betapa banyak orang yang tak melakukan demikian. Yang kaya hanya mau tersenyum dengan yang sepantaran. Itulah pandangan yang lazim kita dapati seperti di kota-kota besar, contohnya, New York, Boston, Moskow, London, Paris, dan bahkan di sebagian besar negeri islam sendiri. Padahal senyum adalah aktivitas ringan yang sering dilakukan oleh manusia mulia.
Seperti Nabi sekaligus Raja, Sulaiman, saat ia melihat segerombolan semut tengah bergegas masuk menuju rumah mereka sebelum bala tentara sulaiman melintasi tempat itu. Allah berfirman menceritakan kisah Nabi sulaiman tersebut dalam surat An-Naml yang artinya:
“Maka dia tersenyum dengan tertawa mendengar perkataaan semut itu.” (An-Naml: 19)
senyum adalah hal remeh yang memiliki nilai besar di mata setiap orang yang melihatnya. Senyumanmu di hadapan saudaramu mampu memberikan kesan bahwa engkau adalah orang baik. Sebaliknya jika kamu menampakkan sikap angkuh dan sombongmu, orang juga akan menilaimu singkat jika kamu orang sombong nan angkuh. Senyuman yang ramah, itulah yang seharusnya dimiliki oleh para pendakwah setelah ilmu dan akhlak mulia yang mereka miliki. Karena jika yang tampak di wajah mereka hanya kesombongan, walau mereka membawa ilmu seberharga apapun, orang-orang juga mesti bakal menjauh dari mereka dengan alasan dia tidak ramah.
Begitu juga dengan apa yang terjadi di lingkungan belajar. Herannya, sebagian guru akan lebih mampu untuk tersenyum dan akrab di hadapan mereka yang membayar uang bulanan saja. Sementara dengan mereka yang kekurangan dan terbelakang, senyuman itu terkadang juga sirna dan terhambat.
Pertanyaan, apakah jaminan kesuksesan hanya diperuntukkan untuk mereka yang membayar uang bulanan? Sehingga senyuman dan perhatianmu hanya kamu curahkan kepada mereka saja.
Nabi tak pernah mengajarkan kita tersenyum hanya kepada mereka yang kaya saja. Karena senyum ini sejatinya adalah sedekah, bukan sesuatu yang remeh. Nabi pernah bersabda yang artinya:
“ jangan sekali-kali meremehkan perbuatan baik sedikitpun, walau hanya menjumpai saudaramu dengan wajah tersenyum” (HR. Muslim)
mudah bukan? Kamu tak perlu menyodorkan ratusan dollar untuk sedekah. Cukup dengan senyuman, itu juga sudah bisa dianggap sedekah. Tapi ingat, jangan jadikan senyumanmu hanya kepada wanita saja. Ini justru salah dan mampu membuatmu terkena fitnah.
Selain itu juga, tak sepantasnya bagi kita untuk meremehkan kebaikan sekecil apapun. Karena dalam Islam, itu akan mendapat balasan yang setimpal juga di hari kiamat. Hanya dengan tersenyum, itu sudah bisa menjadi pahala sedekah bagimu. Mudah sekali, bukan? Kamu tak perlu untuk datang ke panti asuhan jika ingin bersedekah padahal kamu tak memiliki uang. Cukup dengan senyummu di hadapan saudaramu sesama muslim.
Apa manfaat di balik senyuman?
Jawabannya adalah. Saat tersenyum, otak kita akan mengeluarkan zat seretonin yang mampu meningkatkan kekebalan tubuh. Sehingga orang yang mudah senyum akan lebih sehat dibanding yang tidak senyum.
Riset mengatakan, senyuman yang diinstruksikan akan mendapat manfaat psikologis yang sama dengan mereka yang benar tersenyum. Karena dengan senyuman, seseorang dapat menjadi lebih sehat dan bahagia betulan. Selain itu, manfaat di balik senyuman adalah mampu menambah umur. Nabi pernah bersabda yang artinya:
“Sesungguhnya barang siapa dikaruniai sifat lembut maka ia telah diberi bagian dunia dan akherat. Silaturrahmi dan berakhlak baik dan berbuat baik kepada tetangga akan memakmurkan dunia dan menambah usia” (HR. Ahmad)
Ibnul mubarrak mendeskripsikan akhlak baik dengan:
“ wajah berseri, melakukan hal baik serta tidak menyakiti orang lain,”
Kata Beliau, menyuguhkan banyak senyuman lebih baik ketimbang banyak tertawa. Karena Nabi sendiri pernah memberi dampak banyak tertawa, yang artinya:
“sedikitlah tertawa! Karena banyak tertawa mampu mematikan hati,” (HR. tirmidzi)
karena semakin banyak orang tertawa, itu akan menghilangkan kewibawaan mereka. Oleh karenanya, pilihlah senyuman dan kurangi tertawa. Semoga bermanfaat, sekian dan terimakasih.



0 komentar:
Posting Komentar